Refleksi Pra dan Pasca Menonton “27 Steps of May”

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

1 Mei lalu saya memutuskan akan menonton 27 Steps of  May (May) yang mulai tayang pada hari kedua pasca  peluncuran film Avengers: EndGame di Semarang. Alasan saya ada dua; (1) segera menonton film karya anak bangsa sebelum diturunkan dari teater secara prematur, (2) sentimen nasionalisme penuh rasa tak rela ketika membaca berita bahwa Marvel Studios dan Walt Disney Pictures berhasil menangguk keuntungan sebesar 28 triliun di 11 hari pertama peredaran EndGame.

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbanyak urutan keempat dunia; yang warga kelas menengahnya memiliki “semangat tak mau ketinggalan tren paling duluan nonton film-film Marvel“; menjadi penyumbang profit yang signifikan bagi perusahaan film manca tersebut. Seperti dilansir Tribunnews 5 Mei 2019, jumlah penonton Indonesia mencapai 9 juta orang. SEMBILAN JUTA PENONTON !

Perfilman Indonesia di Bawah Represi Kaum Moralis

Sementara,  dalam kurun waktu yang sama, film KUCUMBU TUBUH INDAHKU (KTI) besutan Garin Nugroho, sutradara lokal yang mengangkat budaya lokal ditolak edar di beberapa wilayah Indonesia. Alasannya? Mempromosikan LGBT. Film yang baru meraih 8 ribu penonton di minggu pertama peredarannya ini kemudian hanya bisa disaksikan di Jakarta.

Ketika stigma “mendukung LGBT” dilekatkan pada individu, produk atau apapun di Indonesia ini, maka jangan coba-coba melakukan pembelaan, kalau tidak mau dicap ateis, bida’ah, tak bermoral. Lebih baik diam dan pura-pura tidak tahu. Ditambah lagi, 2019 adalah tahun politik. Membela hak hidup individu LGBT sangat tak menguntungkan karena rawan kena goreng lawan politik, apalagi “hanya sekedar” membela sebuah film. Alhasil, pelarangan peredaran film KTI tidak memperoleh perlawanan berarti dari mayoritas masyarakat.

Sektor ekonomi kreatif khususnya perfilman yang digadang-gadang akan didukung sepenuhnya oleh pemerintah; justru dimatikan sebelum benar-benar menjadi jawara di negeri sendiri. Dalam situasi seburuk ini, jangan pernah mengomel ketika layar sinema lokal dipenuhi film-film horor yang tak jauh dari tema kuntilanak, suster ngesot, gendruwo dan seperkawanannya. Tema film yang peluang investasinya cukup aman untuk balik modal.

Lagipula, mana ada investor gila yang di kemudian hari tetap berani memproduksi film dengan tema-tema penting tapi rawan kontroversi; dengan risiko mengalami kerugian besar-besaran karena dilarang tayang? Suram memang masa depan tontonan kita.

27 Steps of May dan Peristiwa Mei 1998

Kembali ke 27 Steps of May (May) di tanggal 1 Mei tadi. Saya sudah sampai di depan loket dengan keyakinan bahwa film ini tidak akan banyak peminatnya. Jadi saya datang cukup mepet menjelang jam tayang. Terkejut juga ketika petugas tiket menyatakan semua tiket May telah habis terjual. Selain kecewa karena tidak kebagian tiket, ada juga terselip rasa senang saya. Ternyata film lokal non horor dan laga masih punya basis penonton yang lumayan. Baiklah. Lain waktu saya akan kembali mengincar May.

Kesibukan harian membuat saya hampir lupa untuk kembali memburu tiket menonton May sampai sebuah unggahan di linimasa Facebook yang isinya undangan menghadiri Peringatan Rujak Pare 11 Mei mendatang; saya baca. Peringatan Rujak Pare ini digagas oleh Pak Harjanto Halim, Ketua Perkumpulan Rasa Dharma. Rujak Pare menyimbolkan kepahitan yang dialami para perempuan Tionghoa korban perkosaan massal pada kerusuhan Mei 1998; sebuah peristiwa yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai setengah ‘dongeng’; entah benar-benar terjadi atau hanya ‘hoax’ belaka. Sumir. Karena walaupun telah ada laporan resmi tentang kebenaran peristiwa tersebut, tidak ada pengusutan berarti.

Pada peringatan Rujak Pare perdana 2018 lalu, saya berhalangan hadir. Saya hanya kebagian membaca reportase yang disusun Ellen Kristi, kolega saya (https://ein-institute.org/rujak-pare-simbol-melawan-lupa-tragedi-1998/ ) . Jadi tahun ini saya putuskan untuk  hadir. Dan niat besar untuk hadir ini mengingatkan saya pada May yang minggu lalu gagal saya tonton.

Bukankah May awalnya dibuat karena terilhami oleh peristiwa perkosaan massal 1998? Demikian ulasan yang saya baca di beberapa media daring. Walau akhirnya sutradara dan penulis skenario memutuskan tidak menyinggung peristiwa tersebut karena satu dan lain hal; fokus mengangkat dampak panjang trauma akibat kekerasan seksual – saya anggap penting untuk dipahami orang-orang yang tidak pernah mengalami dan tidak akrab dengan isu tersebut.

Alangkah hampanya memperingati sebuah peristiwa dari tahun ke tahun, tanpa mampu memahami konsekuensi-konsekuensi terparah dari sebuah peristiwa perkosaan. Jadi sebelum memperingati, tentunya baik sekali bila lebih banyak tahu, apa saja yang dialami korban.

Senin 6 Mei, saya merambah situs yang memuat jadwal putar May. Yippie, ternyata masih tayang! Terbersit mengajak tim kerja saya di Ein Institute; saya segera mengontak Ellen sambil melempar usulan, bagaimana kalau mengajak rekan-rekan lain nonton bareng pukul 19.00 ini. Beberapa rekan yang kami tawari kebetulan bisa bergabung.

Lewat aplikasi pengirim pesan WhatsApp saya sebarkan sinopsis film supaya bisa dibaca sebelum menonton; walau kemudian terungkap bahwa tidak semua rekan sempat membaca sinopsis sehingga tidak siap mental mendapati alur film yang lambat dan minim dialog.

Saya tidak akan menulis resensi May, karena Ellen dan beberapa rekan lain sudah melakukannya terlebih dulu. Berkat komporan Ellen yang punya ribuan follower dan ratusan pembaca setia status-statusnya, May mendadak mendapat penonton-penonton baru. Beruntung, May masih bisa diakses hingga Rabu (8/5).

Paham Isu, Lalu Melakukan Aksi Nyata

Memahami dan berempati pada sebuah isu adalah bahan bakar utama yang memungkinkan seseorang memperjuangkan perbaikan situasi dalam jangka waktu tak tertentu. Tanpa modal utama ini, semua basa basi kepedulian pada sebuah isu bisa jadi hanya musiman, sekali setahun ketika ada peringatannya.  Yang kini marak; dengan mengunggah status berisi kepedulian, menandatangani dan membagikan petisi daring, seseorang kemudian berani mendaku diri sebagai aktivis, tanpa merasa perlu melakukan kerja-kerja berkesinambungan di akar rumput.

Kepekaan dan pemahaman hanya bisa diperoleh dengan interaksi langsung dengan subjek. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kemewahan ini, punya waktu cukup untuk benar-benar terjun; mengamati untuk kemudian memahami. Meluangkan waktu dua jam di gedung bioskop serta mengeluarkan sejumlah uang untuk  terbantu memahami sebuah isu; bagi saya adalah sebuah kemudahan luar biasa; dibandingkan susah payah para pembuat film yang  selama bertahun-tahun bekerja super keras untuk menyajikannya; dengan sedapat mungkin mendekati pengalaman korban yang sebenarnya.

Jujur, berdasar menonton film saja saya hanya bisa menangkap sepersekian persen kepedihan korban kekerasan seksual. Tapi setidaknya saya masih ingat rasa marah, terhina dan tak berdaya yang saya alami, ketika pada 2011 seorang lelaki random di sebuah warung di kawasan Dagen Jogja tiba-tiba meremas bokong saya tanpa rasa risih sedikitpun. Ketika saya memelototi wajahnya, saya hanya mendapati ekspresi datar seakan tidak melakukan kesalahan apapun. Wajah lelaki itu seakan menantang, “Mau apa kau sekarang?”.

Nafas saya sesak menahan marah, ingin sekali saya menabok wajahnya atau melemparkan benda apapun untuk melampiaskan kemarahan dan kejijikan saya. Tapi yang terjadi adalah, saya tidak mampu melakukannya.  Satu, karena saya memang tidak terlatih bela diri. Kedua saya sangat dikuasai emosi sehingga tak mampu membela diri.

Yang mampu saya lakukan adalah bergerak menjauh sambil mengingat wajah si pelaku secara rinci, dan terus mengamati lokasi pergerakannya yang masih berada di seputar warung. Saya menelfon seorang rekan yang berada tak jauh dari lokasi, saya ceritakan apa yang saya alami, sambil tetap mengamati posisi si pelaku.

Tak berapa lama rekan saya tiba di lokasi dan menanyakan posisi si pelaku pelecehan. Mencoba mengesampingkan rasa mual, saya mendekati warung tadi, kemudian saya menunjuk hidung si pelaku. Dalam situasi tersebut, saya sudah mengumpulkan segenap keberanian walaupun hanya untuk menunjuk hidung si pelaku. Rasanya masih gemetaran dipicu marah dan jijik. Tapi saya memberanikan diri bertahan di lokasi kejadian.

Tanpa banyak ba bi bu, rekan saya menghajar muka si pelaku dengan tangan kosong. Pelaku terbanting ke lantai warung, sementara rekan-rekan yang mengenalnya pura-pura tidak melihat. Pelaku berteriak-teriak minta ampun sambil menyangkal telah mencolek saya. Semakin tidak mengaku, semakin ia terkena hajaran lanjutan. Terus terang, saya juga tidak kuat menyaksikan orang digebuki di depan mata, tetapi saya menabah-nabahkan diri, dengan dasar pemikiran, orang seperti pelaku ini harus dibuat jera supaya tidak ada korban berikutnya.

Ketika kemudian kondisi si pelaku makin berdarah-darah, ia akhirnya mau mengakui perbuatannya sambil meminta-minta ampun. Rekan saya telanjur emosi dan terus menghajar si pelaku, hingga akhirnya saya yang harus berteriak-teriak menghalangi.  Saya pikir, kalau ia meninggal di tempat, bakal repot lagi urusannya. Pelaku bersumpah-sumpah tidak akan mengulangi lagi perbuatannya, sementara darah mengucur deras dari sekujur wajahnya yang bonyok. Pemandangan yang membuat saya sulit tidur berhari-hari.

Dengan lutut lemas, saya beranjak menjauh, menjatuhkan diri di emperan hotel tempat konferensi yang saya hadiri berlangsung. Jantung saya berdegup luar biasa kencang, sehingga saya bisa mendengarnya dengan telinga telanjang. Perlu waktu cukup lama bagi saya untuk kembali tenang.

Bermodal pengalaman buruk ini, saya bisa sedikit membayangkan, seberat apa beban yang dirasakan korban perkosaan; sedangkan saya yang “hanya dicolek di bagian bokong” sudah demikian merasai trauma.

Ketika korban perkosaan yang sudah melapor secara resmi masih kerap gagal memperoleh keadilan, apa jadinya dengan korban-korban pelecehan seksual yang “hanya dicolek atau diremas” ? Jangan heran kalau kemudian pengadilan jalanan  marak terjadi.

Dalam situasi seperti ini, saya sulit memahami mengapa masih ada pihak yang menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual segera disahkan. Saya berharap peringatan Mei 1998 tidak berlalu begitu saja, tetapi menjadi momentum untuk mendorong realisasi perlindungan hukum bagi perempuan. Kegairahan menyimak May semoga tidak berlalu sebagai pemanis unggahan medsos belaka.


Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait

Widjajanti Dharmowijono: Menembus Kabut Prasangka dan Stereotip terhadap Para Leluhur

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Share it !             Post Views: 127 Pernyataan sikap ini tidak dengan mudah diambil Inge, panggilan akrab Dr. Widjajanti Dharmowijono. Ia menempuh sebuah proses panjang menelusuri jejak leluhurnya yang memakan waktu bertahun-tahun. Penelusuran pribadi yang dijalani Inge ini mempunyai banyak kemiripan dengan latar belakang kisah fiksi sejarah Membongkar yang Terkubur karya Dewi Anggraeni. Karenanya, paparan berjudul […]


Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Politik Islam Orde Baru: Hegemoni Ingatan dan Romantisme Semu

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Share it !             Post Views: 152 Selasa malam (4/4) Kampung Gendong Selatan Kelurahan Sarirejo Semarang terlihat riuh dengan kehadiran ratusan anak muda memadati Gedung Sarekat Islam (SI). Mereka peserta acara diskusi Gedung SI bertema Politik Islam Orde Baru. Gedung SI sendiri ternyata bukan tempat sembarangan, gedung bersejarah yang dahulu punya nama Gedung Rakyat Indonesia (GRI) […]


Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pelarangan Pork Festival, Upaya Jadikan Semarang Panggung Baru Intoleransi

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Share it !             Post Views: 419 Warga Ngobrol Bareng tentang Hak Asasi Manusia (Waroeng HAM) seri ke-5 digelar di Gedung LPUBTN, Kawasan Kota Lama Semarang pada Senin (27/2). Tema diskusi kali ini adalah “Pelarangan Pork Festival: Pengingkaran Kebhinekaan Indonesia”. Diskusi dimotori oleh EIN Institute dengan dukungan LBH APIK Semarang, PKBI Jawa Tengah, Rumah Pelangi, Bengkel […]


Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •