Gereja Kristen Jawi Wetan – Mojowarno, Wajah Umat Kristiani yang Berbeda

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebuah artikel di majalah pariwisata sangat menarik perhatianku ketika mereka menurunkan liputan khusus tentang Riyaya Undhuh-undhuh yang digelar setiap tahun di GKJW Mojowarno; sebuah perayaan ucapan syukur atas berkat Tuhan melimpahkan hasil tani dengan cara mengumpulkan semua hasil panen di halaman gereja dan melelangnya. Ini adalah upaya mandiri para anggota untuk membiayai gereja, tradisi yang telah dimulai sejak 1931.

Penulis artikel memaparkan bahwa Riyaya Undhuh-Undhuh selalu melibatkan masyarakat luas, termasuk warga muslim setempat yang secara turun temurun hidup berdampingan dengan warga Kristiani di Mojowarno.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) memang hanya ada di Jawa Timur. Asal muasal gereja ini adalah masyarakat pedesaan yang bertani di wilayah Hutan Kracil distrik Japan (kini, Kecamatan Mojowarno) pada awal abad ke-19. Pada masa itu masyarakat hidup dengan membuka hutan dan bertani. Mereka mengenal injil melalui seorang Rusia-Jawa , Coenrad Laurens Coolen yang bekerja sebagai sinder blandong (pengawas kehutanan) di daerah Ngoro. GKJW Mojowarno secara resmi berdiri sendiri pada 1923.

Informasi ini sangat menggelitikku, hingga aku mengusulkan pada tim kerjaku di Ein Institute untuk meliput langsung perayaan tersebut pada 13-14 Mei 2019.

Akhirnya, berangkatlah kami: aku, Siek Liang Thay dan Hesti – ke Mojowarno dengan berbekal perlengkapan dokumentasi dan bahan-bahan bacaan yang relevan.

Lomba Kothekan Lesung

Sejak Jumat sore (11/5), rangkaian riyaya dimulai dengan lomba kothekan lesung (alat menumbuk padi) yang diikuti oleh anak-anak, remaja, dewasa hingga kaum sepuh. Mereka bergembira ria, menuthuk lesung sambil berjoget dan menyanyikan lagu-lagu pujian pada Tuhan.

Minggu pagi ini (13/5) adalah puncak Riyaya Undhuh-Undhuh. Sejak pukul 05.30 WIB, jalan raya di depan gereja ditutup untuk mempersiapkan kedatangan 7 rombongan kendaraan hias yang berasal dari berbagai blok seputar Mojowarno. Kendaraan dihias berdasarkan tema-tema cerita Alkitab dan diisi penuh dengan produk-produk pertanian yang disumbangkan warga gereja untuk dilelang.

Kami berbagi tugas, Liang Thay bertugas meliput acara kebaktian di dalam gereja, sementara aku dan Hesti bertugas mengamati keramaian kendaraan hias dan para pengunjung Riyaya yang menyemut di halaman gereja.

Rombongan Pengiring Kendaraan Hias

Satu-persatu kendaraan hias dengan diiringi berbagai bunyi-bunyian memasuki halaman gereja dan memosisikan kendaraan dengan rapi. Para warga blok masing-masing mengiringi kendaraan dengan berjalan kaki, yang perempuan berdandan cantik dengan baju adat Nusantara. Sementara warga gereja yang tidak ikut berpawai menonton dengan antusias. Wajah-wajah mereka dipenuhi senyum dan kehangatan. Aku yang tamu pun merasa seperti berada di rumah sendiri. Tidak merasa sebagai orang asing yang baru pertama kali datang ke gereja ini.

Ragam Kendaraan Hias

Kebaktian syukur dimulai pukul 08.00, segera setelah semua kendaraan pengangkut hasil lelang tertata rapi. Iringan musik gamelan mengiringi pujian umat. Sapaan pemuka gereja pada para anggota melalui pengeras suara terdengar menyejukkan, bagi kami yang hanya mendengar dari halaman gereja di bawah kerimbunan pohon. Khotbah dibawakan dalam bahasa Jawa.

Warga setempat antusias menyambangi Riyaya Undhuh-undhuh

Rekan kerjaku yang seorang muslimah berbisik, “Mbak, aku kok merasa sedang mendengarkan pengajian ya… Soalnya ini gereja khotbahnya berbahasa Jawa. Ada suara gamelan pula… “ Ia terlihat menyimak dan merenung. Matanya diedarkan pada para anggota gereja yang masih berada di halaman, kemungkinan karena tidak kebagian bangku di dalam gereja yang telah terisi penuh sejak pagi.

Rekan kerjaku menyampaikan lagi hasil pengamatannya, “Aku gak menyangka Mbak, bahwa ada orang Kristen di desa. Kukira umat Kristen itu hanya ada di kota-kota besar.” Aku tersenyum-senyum kecil.

Aku yang dibesarkan dalam keluarga Kristen, tentu saja mengetahui bahwa umat Kristen pun ada di desa-desa. Namun, belum tentu orang non-Kristen tahu itu. Jadi aku memakluminya.

Ia meneruskan sambil mengamati para warga sepuh yang lalu lalang di depan kami, “Aku juga gak nyangka bahwa orang Kristen kok wajahnya sama aja seperti Bapak Ibuku, Mbah-ku…. Bajunya sederhana, ya Mbak… Kukira semua orang Kristen itu, yang berpenampilan parlente, orang kaya. Karena di daerahku, gak ada orang Kristen yang petani Mbak…. “. Aku membiarkan rekan kerjaku itu hanyut dalam renungannya. Pemahaman memang butuh perjumpaan langsung.

Seorang bapak paruh baya yang duduk di samping kami tiba-tiba menimbrung ikut bicara, rupanya ia mendengar pembicaraan kami, “Mbak, di Mojowarno ini, sejak zamannya Gus Dur, tidak ada pemisah antara muslim dan Kristiani. Soalnya, para pemuka agama masing-masing memulai dengan saling mengunjungi. Akhirnya umat di bawah mengikuti dengan saling srawung, berkegiatan bersama…” Bapak berkaus kuning ini rupanya salah satu anggota gereja dari Blok Mojotengah.

Ia melanjutkan kisahnya, “ Kalau ada Kebaktian Minggu di kampung kami Mbak, para pemuka masjid mematikan pengeras suaranya, untuk bertoleransi pada kami. Acara Undhuh-Undhuh ini juga, warga muslim ikut menyumbang hasil tani dan ikut bekerja menghias kendaraan pawai….

Aku dan rekan kerjaku tercengang heran. Luar biasa pengaruh para tokoh di akar rumput. Gaungnya tidak hilang walau tokoh tersebut telah lama berpulang. Lagi-lagi aku menyuja hormat pada Gus Dur.

Ketika kami masih asyik berbincang, tiba-tiba pengeras suara gereja melantunkan doa dukacita untuk para korban serangan bom gereja di Surabaya. Suara pemuka agama pembaca doa bergetar dan merintih-rintih, memohon pengasihan Tuhan untuk melindungi jemaat yang sedang menggelar ucapan syukur di tempat ini.

Aku tercekat, tidak tahu duduk perkaranya. Sontak aku meraih telepon selular dan bergegas mencari informasi tentang serangan bom di Surabaya. Ternyata baru saja terjadi serangan bom di tiga gereja di Surabaya: Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan GPPS Jemaat Sawahan.

Seperti diberitakan BBC Indonesia:

Menurut polisi, bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya.

Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di gereja Pantekosta di jalan Arjuno, dan tidak lama kemudian bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro, kata polisi.

Empat orang tewas akibat ledakan bom di depan Gereja Santa Maria, dua orang tewas di gereja Pantekosta serta dua orang tewas lainnya di depan gereja GKI, ungkap Frans Barung.

Perasaan khawatir bercampur ngeri menyusupiku. Aku dan rekan-rekanku sedang berada di sebuah gereja yang tengah menggelar keramaian, dan lokasinya di Jawa Timur, tak jauh dari Surabaya. “Bagaimana kalau ternyata gereja ini juga menjadi salah satu sasaran pengeboman? Bukankah biasanya para pelaku pengeboman memilih lokasi-lokasi yang ramai agar aksinya benar-benar berdampak besar?” aku berusaha menepis semua pikiran buruk.

Tak lama, rekan kerjaku Siek Liang Thay bergabung mencari posisiku dan Hesti yang sejak tadi berusaha mengontaknya. Kami sempat saling bertukar pikiran menyikapi insiden yang baru saja kami ketahui. Kami memutuskan untuk meyakini bahwa situasi GKJW Mojowarno cukup aman bagi kami untuk melanjutkan peliputan.

Setelah keriuhan merespon insiden mereda, muncul perasaan nelangsa di hatiku. Betapa perbuatan segelintir orang yang putus asa kemudian mendominasi pemberitaan nasional dengan tujuan menebar rasa takut mati, rasa saling benci. Sementara di sini, di lapangan, aku menyaksikan sendiri praktik kebersamaan hidup yang dilakoni masyarakat lintas agama dan etnis yang telah berlangsung puluhan tahun. Ironis.

Seburuk apapun situasi, aku berharap Mojowarno akan tetap bertahan dengan keguyuban mereka. Kasih terlalu besar untuk dikalahkan kebencian.

Rekan-rekan Banser NU berkontribusi mengawal Perayaan Undhuh-undhuh

Perayaan selesai dan kami beringsut meninggalkan halaman gereja. Nampak dua orang anggota Banser NU masih berjaga bersama-sama dua petugas Kepolisian. Mereka lambang cinta kasih yang tidak perlu banyak bicara.

Terima kasih Mojowarno! Pertunjukan kerukunan ini akan kami duplikasi dan wartakan.

Mojowarno, 14 Mei 2018

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait

Melancong ke Pecinan Semarang: Mengalami, Bukan Menonton

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Share it !             Post Views: 382 Catatan Pasca Jelajah Pecinan Semarang, Widya Mitra Heritage Walk -X Pariwisata Sudah Menjadi Kebutuhan Primer Pariwisata sudah menjadi kebutuhan primer; demikian temuan riset Visa Global Travel Inventions Study (GTIS) pada 2015. Terjadi peningkatan 33% wisata ke luar negeri yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dibanding tahun 2013. Selain itu muncul […]


Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pelarangan Pork Festival, Upaya Jadikan Semarang Panggung Baru Intoleransi

Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Share it !             Post Views: 449 Warga Ngobrol Bareng tentang Hak Asasi Manusia (Waroeng HAM) seri ke-5 digelar di Gedung LPUBTN, Kawasan Kota Lama Semarang pada Senin (27/2). Tema diskusi kali ini adalah “Pelarangan Pork Festival: Pengingkaran Kebhinekaan Indonesia”. Diskusi dimotori oleh EIN Institute dengan dukungan LBH APIK Semarang, PKBI Jawa Tengah, Rumah Pelangi, Bengkel […]


Share it !
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •